Lean Manufacturing - 14 Prinsip Toyota Ways
BAB I : TINJAUAN PUSTAKA
1.1 Lean
Toyota merupakan salah satu produsen mobil ternama di
dunia. Tidak hanya dikenal sebagai penghasil mobil berkualitas, namun toyota
juga dikenal karena Lean Manufacturing
yang mampu mengubah dunia industri sampai seperti sekarang. Toyota tidak hanya
sekedar membuatnya melainkan menerapkannya dan menjadikannya sebagai kebiasaan
juga budaya kerja para petinggi maupun para pekerja dan dikenal sebagai Lean Culture. Menurut Abadi (2015) Lean Culture dikembangkan Toyota menjadi
Toyota Way dalam 14 prinsip perusahaan yang menjadi petunjuk wajib, yang
bertumpu pada dua pilar yaitu continuous improvement dan
respect to people.
Lalu apakah Lean Manufacturing itu?
Menurut Adesta & Prabowo (2018) Lean
Manufacturing is an organization effort to improve production efficiency and
typically carried out by almost all the companies to prevent budget waste
production. Dan Menurut Antandito, dkk (2014) Lean Manufacturing didefinisikan
sebagai pereduksi dari waste dalam segala bentuk atau kondisi dengan memaksimalkan aktivitas
yang bernilai tambah (value added).
1.2
The Toyota
Way

Gambar 1.1 Logo Toyota
Menurut Liker (2006) Toyota way adalah cara
Toyota memandang dunianya dan melakukan bisnisnya. The Toyota Way adalah sebuah
filosofi manajemen yang digunakan oleh korporasi
Toyota, yang meliputi Toyota Production
System. Filosofi kerja ini terdiri dari 14 prinsip dasar, dengan ide-ide utamanya
adalah agar mendasarkan keputusan manajemen pada "pemahaman filosofis atas tujuan (perusahaan)",
berpikir jangka panjang, memiliki proses untuk
memecahkan masalah, penambahan nilai bagi organisasi dengan cara mengembangkan orang-orangnya, dan menyadari
bahwa memecahan masalah secara terus-menurus mendorong proses belajar
organisasi
(wikipedia, 2018).

Gambar 1.2 The Toyota Way
Toyota Way memiliki 14 prinsip. Menurut Liker
(2006) prinsip-prinsip ini diorganisasikan dalam empat kategori :
1.
Filosofi jangka panjang
·
Dasarkan keputusan
manajemen anda pada filosofi
jangka panjang, bahkan bila harus mengorbankan tujuan keuangan jangka pendek
2.
Proses yang tepat akan memproduksi hasil yang tepat
(dengan menggunakan banyak alat-alat TPS)
·
Buat alur proses yang kontinyu untuk mengangkat permasalahan ke
permukaan.
·
Gunakan sistem "tarik" (pull) untuk menghindari produksi yang berlebihan
·
Ratakan beban kerja (heijunka). (Bekerjalah seperti kura-kura,
bukan seperti kelinci).
·
Bangun budaya agar berhenti untuk memperbaiki masalah sehingga kualitas yang tepat
diperoleh sejak pertama kali.
·
Tugas dan proses yang
terstandar merupakan dasar untuk
perbaikan secara terus-menerus dan pemberdayaan karyawan
·
Gunakan pengendalian visual agar tidak ada masalah yang
tersembunyi.
·
Gunakan hanya teknologi yang dapat dipercaya dan benar-benar
teruji untuk melayani orang-orang dan proses.
3.
Menambah nilai pada organisasi dengan mengembangkan
orang.
·
Kembangkan pemimpin yang benar-benar memahami pekerjaannya,
menjiwai filosofinya, dan mengajarkannya kepada orang lain.
·
Kembangkan orang-orang
dan tim yang luar biasa, yang
bersedia mengikuti filosofi perusahaan
Anda
·
Hormati jaringan mitra dan pemasok dengan cara terus menantang mereka dan membantu
mereka memperbaiki diri.
4.
Secara terus menerus memecahkan akar permasalahan yang
mendorong pembelajaran organisasi.
·
Pergi dan melihat sendiri untuk dapat benar-benar memahami situasi
(genchi genbutsu).
·
Ambil keputusan secara perlahan-lahan dengan konsensus, saksama
dalam mempertimbangkan semua pilihan.
·
Menjadi organisasi pembelajar melalui refleksi yang terus-menerus
(hansei) dan perbaikan yang berkesinambungan (kaizen).
1.3 Heijunka

Gambar
1.3 Perumpamaan Heijunka
Heijunka merupakan salah satu prinsip yang diterapkan
oleh perusahaan Toyota. Didalam Amram dan Imdam (2009) terdapat beberapa
definisi dari Heijunka itu sendiri, sebagai berikut :
1.
PT Toyota Motor Company (1989) mendefinisikan heijunka
sebagai suatu metode sistem produksi yang merata berdasarkan pada target yang
ditentukan secara bulanan dan harian dengan memantau model spesifikasi unit,
sehingga dapat mengurangi fluktuasi beban kerja.
2. Menurut Suzaki (1991) heijunka berarti sistem produksi yang
memproduksi barang bermacam-macam (campur) dalam satu lini produksi, yang
berarti produksi dilakukan secara bergilir dalam setiap hari, tiap jam bahkan
tiap menit sehingga tingkat persediaan dalam proses menjadi lebih rendah.
3. Sedangkan Liker (2006) menyatakan heijunka adalah meratakan produksi baik dari
segi volume maupun bauran produk. Ia
tidak membuat produk berdasarkan urutan aktual dari pesanan pelanggan, yang dapat naik dan turun
secara tajam, tapi mengambil jumlah
total pesanan dalam satu periode dan meratakannya sehingga dibuat dalam jumlah dan bauran yang
sama setiap hari.
Menurut Amram dan Imdam (2009) konsep dari Heijunka itu
sendiri adalah Heijunka dilakukan untuk mengantisipasi
perubahan-perubahan yang terjadi
terhadap keinginan pasar atau konsumen. Konsep heijunka tidak hanya dipakai
pada lini perakitan saja, karena apabila setiap lini sub-perakitan memproduksi
part sesuai dengan kapasitas produksinya tanpa henti, jumlah part yang tak
terpakai sangat banyak jumlahnya. Artinya, terjadi pemborosan akibat kelebihan
produksi dalam proses atau sub-perakitan hulu.
Sehingga perataan jumlah produksi untuk setiap jenis produk perlu
dilakukan untuk meminimumkan pemborosan.
BAB II : PENERAPAN HEIJUNKA
2.1 Informasi
Jurnal
Judul Jurnal :
Pemerataan Produksi Culvert dengan
Metode Heijunka
Nama Penulis :
Dwi Hadi Sulistyarini, Femiana G. dan Nasion Patriotik
Nama Jurnal :
Jurnal Ilmiah Teknik Industri (2017),
Vol. 5 No. 3, 171
– 178
2.2 Permasalahan
Yang Terjadi
Permasalahan
yang terjadi terdapat pada sistem produksi, karena bagian produksi hanya
berpedoman pada pesanan yang pertama dilakukan tanpa memperkirakan pesanan yang
bervariatif dan berfluktuatif. Sehingga apabila pesanan datang tiba-tiba dan
dalam jumlah besar, tidak dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Penelitian
dilakukan di CV. Aneka Beton.
2.3 Hasil
dan Pembahasan
1. Perhitungan
Waktu Proses Produksi
Proses
pengukuran waktu produksi dilakukan mulai dari membuat rangka tegak dan rangka
silindris, pembuatan adonan hingga pekerja melakukan pencetakan dengan tiga
kali pengambilan data.

2. Uji
Kecukupan Data
Untuk dapat menghitung kecukupan data dari pengamatan
yang dilakukan menggunakan rumus dengan persamaan, dengan asumsi tingkat kepercayaan
95 % dan tingkat ketelitian 5 % digunakan yaitu :

Karena N > N’ ( 3 ≥ 2,87 ), maka data yang diambil
telah mencukupi. Dari perhitungan yang dilakukan semua data yang di ambil
dinyatakan cukup.
Berikut adalah contoh perhitungan waktu standar untuk
Adonan:
Waktu standar = Waktu normal + (Waktu normal x allowance
(%)
= 39,56 + (39,56 x 0,05)
= 41,54 menit
3. Membuat
Jadwal Produksi Baru
Dalam membuat jadwal produksi dengan berdasar pendekatan
pada Heijunka, dibutuhkan data-data pendukung untuk memulai perhitungan
penentuan jadwal produksi yaitu data permintaan setiap jenis culvert pada satu
waktu periode tertentu.

Heijunka dilakukan untuk meminimasi variansi dari total output yang dihasilkan antar dua waktu
periode produksi secara berurutan. Singkatnya, tujuan utama dari metode ini
adalah untuk memproduksi setiap produk dengan jumlah yang sesuai di setiap
harinya.
memproduksi semua produk culvert dapat dihitung dengan
menggunakan persamaan.
[ Nj] = [ Jumlah Produksi tiap culvert ] [ Jumlah Komponen
]
Lebih
jauh, maka jumlah keseluruhan produksi semua produk culvert adalah sebagai berikut
merujuk pada persamaan

Sehingga didapatkan, [Nj/Q] = [35/116 ; 29/116 ; 33/116;
19/116]. Setelah itu diperlukan cara perhitungan urutan dengan mengetahui nilai
D (Jarak) terendah melalui persamaan algoritma monden yang ada pada persamaan
(2-4).

Agar
dapat menentukan produk mana yang akan menjadi urutan pertama dalam jadwal
produksi. Berikutnya dengan memasukkan nilai [Nj/Q] dan [bij], dan bila K=1 , Maka
jarak Dki dapat dihitung dan didapatkan hasil
D1.1* = min {1,35 ; 0,96 ; 1,02 ; 1,86}= 0,96
Dari perhitungan diatas, didapatkan nilai terendah adalah
milik culvert 40 cm2. Oleh karena itu, urutan pertama dalam jadwal adalah
culvert 40 cm2. Selanjutnya didapatkan jumlah komponen-komponen yang dibutuhkan
untuk memproduksi culvert 40 cm2 sehingga mengubah jumlah komponen lama yang
belum diproduksi. Pengubahan komponen tersebut akan terlihat seperti :
• Adonan = 0 + 1 = 1
• Rangka Silinder 20 cm2 = 0 + 0 = 0
• Rangka Silinder 40 cm2 = 0 + 1 = 1
• Rangka Silinder 60 cm2 = 0 + 0 = 0
Hasil pengurutan jadwal menggunakan metode heijunka yakni 1 produk B, 1 produk C, 1
produk A, 1 produk D, 1 produk A, 1 produk C, 1 produk B, 1 produk C, 1 produk
A, 1 produk D, 1 produk B, 1 produk A, 1 produk C, 1 produk B, 1 produk C, 1
produk A, 1 produk D, 1 produk B, 1 produk A, 1 produk C, 1 produk B, 1 produk
A, 1 produk D, 1 produk A, 1 produk C, 1 produk B, 1 produk C, 1 produk A dan
begitu pula seterusnya dengan memulai dari awal lagi hingga sesuai permintaan.
Dengan “A” adalah culvert 20 cm , “B”
culvert 40 cm , “C” culvert 60 cm, “D” culvert 100 cm.
4. Membuat
Gantt Chart
·
Gantt Chart dengan metode existing dimana selama tidak ada pemesanan maka setiap harinya
perusahaan hanya memproduksi satu jenis culvert yang bergantian setiap harinya.
·
Gantt
Chart dengan metode Heijunka
dimana dalam satu hari tidak memproduksi hanya satu jenis culvert saja
melainkan memiliki urutan sesuai dengan Penjadwalan Heijunka yang telah
diurutkan menggunakan alogaritma Monden.
5. Analisis
dan Pembahasan
Dari Tabel 4 dapat dilihat hasil perbandingan durasi
penyelesaian setiap permintaan yang ada pada perusahaan. Secara keseluruhan
waktu pengiriman jika di jumlah total terdapat selisih 16 hari pada penjadwalan
heijunka dan 37 pada penjadwalan existing.
Hal ini di karenakan beberapa hal yang pertama pada penjadwalan Heijunka memproduksi gorong-gorong lebih
banyak dari penjadwalan existing
dalam satuan waktu yang sama. Yang kedua karena pesanan pesanan pada studi
kasus bulan Februari pada penjadwalan existing
memiliki perbedaan antara jumlah stok yang tersedia dan permintaan yang datang,
sedangkan pada penjadwalan Heijunka
tidak memprioritaskan permintaan yang masuk terlebih dahulu hanya melakukan
proses produksi sesuai jadwal yang telah dibuat.

Dari Tabel 5 dapat terlihat bahwa Jumlah rata-rata
persediaan pada penjadwalan Heijunka
secara keseluruhan lebih besar pada culvert
20 cm selisih 2, culvert 40 cm
selisih 3, culvert 60 cm selisih 4
dan culvert 100 cm selisih 2. Hal ini
terjadi diakibatkan oleh pengoptimalan proses produksi pada penjadwalan Heijunka yang pada satuan waktu tertentu
menghasilkan produk yang lebih banyak dari pada penjadwalan awal atau exisiting yang hanya terpaku pada
standar perusahaan dengan hanya memproduksi satu jenis varian culvert setiap harinya sejumlah 4 untuk culvert tipe A, 3 untuk tipe B, dan 2 untuk
tipe C dan D.

Penjadwalan
Heijunka ini juga dapat mengoptimalkan waktu kerja yang dimiliki oleh
perusahaan tanpa perlu menambah waktu lembur, menambah tenaga kerja borongan
yang sering dilakukan oleh perusahaan ataupun membeli produk culvert dari perusahaan
lain. Sistem produksi seperti ini adalah sistem produksi yang sesuai dengan
konsep Toyota Production System yang lebih memilih untuk memeratakan produksi
tiap variasinya daripada memproduksi satu produk terus menerus terlebih dahulu
tanpa memperhatikan variasi produk yang lain.
DAFTAR PUSTAKA
Adesta, E.Y.T., & Prabowo, H.A. 2017. The Evaluation of
Lean Manufacturing Implementation and Their Impact to Manufacturing Performance.
IOP Conference Series: Materials Science and Engineering, 453(1), 012031.
Antandito, D.J, Choiri, M., & Riawati, L. 2014. Pendekatan
Lean Manufacturing Pada Proses Produksi Furniture Dengan Metode Cost Integrated
Value Stream Maping (Studi Kasus: PT.
Gatra Mapan, Ngijo, Malang). Jurnal Rekayasa Dan Manajemen Sistem Industri,
2(6), 1158–1167.
Amran, T.G., & Imdam, I.A.
2009. Perancangan Jadwal
Produksi Dengan Menggunakan Metode Heijunka Untuk Mendukung Pengembangan Sistem
Produksi Konvensional Ke Sistem Produksi Toyota (Studi Kasus: PT Adyawinsa Dinamika).
Jurnal INASEA.
10(2). 134-147.
Sulistyarini, D.H, Femiana, G., & Patriotik, N. 2017. Pemerataan
produksi Culvert dengan metode
heijunka. Jurnal Ilmiah Teknik Industri. 5(3).
171-178.
Wikipedia. 2018. The Toyota Way. dikutip 8 Juli 2019 dari : https://id.wikipedia.org/wiki/The_Toyota_Way
Ok good...
ReplyDelete